
Penguatan Penerapan RSPP dalam Penyusunan Renja K/L TA 2025
Pagu Indikatif Kementerian/Lembaga (K/L) TA 2025 yang telah dirilis menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L).
Penyusunan Renja K/L dilakukan melalui Sistem Informasi KRISNA-RENJA K/L sampai
dengan minggu pertama bulan Juni 2024, dengan mengacu pada Peraturan Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional /Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Nomor 1 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyusunan, Penelaahan, dan Perubahan
Renja K/L. Penguatan Penerapan Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran
(RSPP) terus menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam Penyusunan Renja K/L TA
2025. K/L diharapkan melanjutkan penyempurnaan rumusan informasi kinerja sesuai
pedoman penerapan RSPP, antara lain:
·
Menyempurnakan
rumusan Sasaran Program dan Indikator Kinerja Program, khususnya untuk Program
yang bersifat lintas Unit Eselon l dan lintas K/L;
·
Menyempurnakan
rumusan Kegiatan, khususnya untuk Kegiatan yang bersifat lintas Unit Eselon
I/II;
·
Menyempurnakan
rumusan Rincian Output (RO) dan Indikator Kinerjanya;
·
Melihat
kembali kesesuaian rumusan RO dengan Klasifikasi Rincian Output (KRO); dan
· Melakukan penandaan anggaran (Budget Tagging) RO yang bersifat khusus dan spesifik terkait dengan Agenda Pembangunan, Program Pembangunan, Kegiatan Pembangunan dan Proyek Pembangunan serta anggaran tematik APBN.
Keluaran (Output)
Kegiatan terdiri atas KRO dan RO. Untuk menyempurnakan rumusan RO beserta
Indikator Kinerjanya, kita perlu memahami definisi RO dan karakteristiknya.
Berbeda dengan KRO, RO merupakan keluaran (output) Kegiatan riil yang sangat
spesifik yang dihasilkan oleh unit kerja K/L yang berfokus pada isu dan/atau lokasi
tertentu serta berkaitan langsung dengan tugas dan fungsi unit kerja tersebut
dalam mendukung pencapaian Sasaran Kegiatan yang telah ditetapkan. RO memiliki karakteristik
antara lain:
·
nomenklatur
RO berupa barang dan jasa;
·
nomenklatur
RO menggambarkan fokus/locus tertentu suatu Kegiatan;
·
RO
merupakan output riil yang menggambarkan pencapaian sasaran Kegiatan unit kerja
pelaksana secara langsung;
·
RO
bersifat sangat spesifik (unik) sehingga mencerminkan tugas dan fungsi unit
kerja yang
menghasilkannya;
·
satuan
pada RO sama dengan satuan pada KRO; dan
·
RO
bersifat terbuka dimana kementerian/lembaga dapat menyusun dan mengubah
nomenklatur RO secara mandiri.
Selain
itu, rumusan RO juga harus sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Hal ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 tentang
Penggunaan Bahasa Indonesia dimana diatur Bahasa Indonesia wajib digunakan
dalam dokumen resmi negara. Berdasarkan karakteristik di atas, dapat disusun
kertas kerja berikut untuk memudahkan penyempurnaan rumusan RO.
Untuk
mencapai RO, unit kerja K/L melakukan beberapa aktivitas yang disebut Komponen.
Sebagai bagian dari Renja K/L, Komponen mencerminkan informasi tahapan, proses,
dan/atau bagian pembentuk RO. Identifikasi ini diperlukan sehingga dapat dengan
mudah ditentukan Komponen utama dan Komponen pendukung/penunjang pada suatu RO.
Dengan itu, dapat diterapkan Standar Struktur Biaya (SSB) yang merupakan
batasan besaran atau persentase komposisi biaya dalam 1 (satu) Keluaran.
Komponen utama adalah semua aktivitas yang nilai biayanya berpengaruh langsung
terhadap volume keluaran. Sedangkan komponen penunjang adalah semua aktivitas
yang nilai biayanya tidak berpengaruh langsung terhadap volume keluaran. PMK
140/PMK.02/2021 tentang Perubahan atas PMK Nomor 195/PMK.02/2014 tentang
Standar Struktur Biaya mengatur maksimal biaya komponen pendukung untuk
kategori Barang Infrastruktur, Barang Non Infrastruktur, Jasa Regulasi, dan Jasa
Layanan Non Regulasi.
Kesesuaian
Rumusan RO dengan KRO
Pemahaman
atas definisi KRO akan membantu dalam melihat kembali kesesuaian rumusan RO
dengan KRO. KRO merupakan kumpulan atas RO yang disusun dengan mengelompokkan
atau mengklasifikasikan muatan Keluaran (Output) Kegiatan yang sejenis/serumpun
berdasarkan sektor/bidang/jenis tertentu secara sistematis. K/L menyusun KRO
berdasarkan daftar referensi KRO sebagaimana ditetapkan dalam kebijakan
perencanaan dan penganggaran nasional. KRO merupakan bentuk umum intervensi dan
produk Pemerintah, meliputi Kerangka Regulasi (Kode Grup A), Kerangka Pelayanan
Umum (Kode Grup B), Kerangka Investasi Fisik (Kode Grup C), Kerangka Investasi
SDM dan Sosial Ekonomi (Kode Grup D), dan Administrasi Pemerintahan (Kode Grup
E dan F). Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional secara berkala merilis Daftar KRO, Satuan, Definisi, dan
Contoh KRO. Pada rilis terbaru per 22 Januari 2024, terdapat 4 KRO baru, yaitu Pelatihan
Vokasi, Prasarana Bidang Hukum, OM Prasarana Bidang Hukum, dan Sarana Bidang Hukum.